Jumat, 08 Januari 2016

The Abandoned Chicken Church in Bukit Rhema

Sebuah bangunan tua yang sering disebut Gereja Ayam, akhir-akhir ini menjadi booming dan hitz untuk kalangan muda. Banyak yang penasaran untuk mendatangi tempat ini, karena bangunannya yang begitu unik. Terletak di bukit Rhema, Borobudur, Magelang.
(taken by me)
(Foto diatas saya ambil pada tanggal 13 September 2015, dengan kondisi sedang direnovasi)
Karena saya lahir di Magelang, sebenarnya saya tidak begitu heran dengan boomingnya bangunan ini. Sejak saya kecil, bilamana sedang berjalan-jalan, bangunan ini terlihat dan paruhnya yang merah nampak jelas terlihat, namun karena dimakan oleh usia, kini paruh dan semua cat yang ada dalam bangunan tersebut mulai berubah. Dahulu saya menyebut bangunan itu dengan nama "Donal Duck" karena memang dari jauh terlihat seperti bebek (maklum masih kecil).
    Sebelumnya, saya tidak mengetahui pasti jika itu adalah gereja ataupun bangunan untuk rehabilitasi narkoba dan kenakalan remaja. Warga sekitar sering menyebutnya sebagai Gereja Manukan / Gereja Ayam / Bukit Merpati. Paman saya pernah hendak mengajak sana kesana saat saya masih kecil, namun sampai saat ini belum terlaksana hingga pada akhirnya saya benar-benar penasaran akan bangunan ini dan lantas mengunjunginya bersama sepupu saya. 
Tempat ini tidak terlalu sulit dijangkau, hanya saja kalau belum pernah kesana tetap harus sering bertanya pada warga desa untuk membantu menuntun hingga sampai ke lokasi gereja burung. Namun sekarang untuk menuju lokasi ini sudah semakin mudah karena banyak papan penunjuk jalan untuk sampai diatas bukit dimana bangunan ini dibangun. Di area bawah sekitar bukit ini juga telah tersedia warung-warung dan tempat parkir yang khusus disediakan untuk para pengunjung (berbeda jauh dengan jaman dahulu, ketika bangunan masih di penuhi semak belukar dan sering dianggap seram ketika malam hari).
(resources: google, to comparing between the past and now)


Menurut sebagaian informasi yang didapat dari warga sekitar, gereja ini telah berdiri sejak tahun 80an. Lokasinya terletak di atas bukit, dengan akses jalan ke Lokasi dahului masih bebatuan dan rumput-rumput ilalang yg tinggi-tinggi (namun itu dulu), sekarang berbeda, jalannya telah berubah menjadi jalan yang begitu mudah untuk dilewati kendaraan mobil pribadi ataupun sepeda motor. Namun untuk kendaraan apapun jenisnya tidak di izinkan naik hingga kebukit, maka harus parkir dibawah.
Jika dahulu hendak mamasuki gereja ayam ini tidak dipungut biaya, sekarang bersiap-siaplah merogoh kocek kisaran Rp.5000 - Rp. 10.000,- untuk wisatawan lokal, dan untuk manca di patok Rp. 100.000 (mahal ya wkw), tapi jika bila anda pengunjung yang cerdas seperti saya (abaikan) cukup bilang saja "tiyang mriki mawon" artinya orang daerah sini saja. Then taraaaaa... you can entering this building without paid sepeserpun hehe.
Beberapa versi lain yang juga tidak kalah meyakinkan, gereja ini berdiri sejak tahun 90ann dan berawal dari Daniel Alamsjah, merupakan pemilik bangunan gereja ini. Daniel menikah dengan penduduk setempat. Suatu hari Daniel mendapat visi Tuhan untuk membangun gereja berbentuk burung merpati di sebuah bukit, untuk menyatukan umat Kristen diseluruh dunia. Bentuk merpati ini diyakini sebagai simbolisasi Roh Kudus juga sebagai tempat perlindungan. Berkali-kali Daniel mendapatkan Tuhan mengatakan visi ini, hingga ia memutuskan untuk mengunjungi ibu mertuanya yang tinggal di sebuah desa di kaki bukit Monoreh, atau disebut Gombong. Ia memiliki perasaan yang kuat harus mendaki bukit ini. Setibanya di atas bukit ia mulai berdoa, apakah ini bukit yang ia lihat (dalam visi)? Daniel terus berdoa setiap hari di atas bukit, menyadari bahwa ia tak cukup memiliki uang untuk membeli bukit tersebut, sampai ia tahu Tuhan akan membantunya. Dalam waktu 6 bulan, di tahun 1994 akhiranya Daniel berhasil memiliki 2,5 hektar tanah diatas bukit dan mulai membangun proyek impiannya.
Satu versi menyebutkan, di tahun 1998, dimana saat itu Indonesia mengalami krisis ekonomi, berdampak pada proyek milik Daniel. Ia kehabisan uang dan kehilangan sponsor yang bekerja sama membangun proyek ini, hingga akhirnya Daniel kehilangan minatnya. Sejak saat itu pembanguna gereja miliknya menjadi terbengkalai. Sampai saat ini struktur bangunan gereja masih oke, hanya saja banyak cat terkelupas dan ornamen jendela di samping bangunan telah rusak dan penuh aksi vandalisme sehingga terkesan menjadi kumuh dan angker. Namun jangan khawatir kini bangunan elok ini sudah dalam tahap renovasi.
Menurut informasi lain mengatakan, proyek pembanguan yang dijadikan rumah doa ini hampir 70% selesai dan sempat digunakan menjadi sebuah tempat rehabilitasi pengguna narkoba, kenakalan remaja, dsb. Tempat rehabilitasi menggunakan dua ruangan yang terdapat pada lantai 1 bangunan ini. Sedangkan lantai 2 yang berupa aula besar digunakan untuk berdoa. Namun karena penolakan dari warga sekitar, yang menggira bangunan ini digunakan untuk kegiatan maksiat, akhirnya Daniel meninggalkan bagunan ini di tahun 2000, dan membangun kembali rumah doa dan panti rehabilitasi (Rhema Ministry) ditempat lain.









(those pic from google)


(This pictures below, taken by me 13'9'15)


(tahap renovasi)

















Tidak ada komentar:

Poskan Komentar